Rabu, 08 April 2015

Ketika Senja Melangsir Kata

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Ketika senja melangsir kata. Sebuah kalimat yang selalu memberi harapan besar. Bukan hanya sekedar menanti terwujud. Senja mampu menjadi pemicu kalbu untuk saya, membuat saya mampu berkata "sanggup mengubah asa menjadi nyata". Semoga hal yang sama dapat kamu rasakan saat usai membaca cerita yang saya buat dengan penuh rasa ya. Happy reading guys :)



Ketika Senja Melangsir Kata
Ketika senja melangsir kata. Gerimis berlapis-lapis tak kunjung berhenti mengiris sore ini. Udara kian lembab. Matahari senja sedang melukis pelangi diufuk barat sana. Hingga spektrumnya terpendar dalam setiap sela ruangan. Membentuk sejuta warna hati yang gelisah. Dirundung cemas. Dipagut rindu yang kian menderu.
Ya Rabb,izinkan aku bersama malaikat penurun hujan-Mu. Menabur benih hujan dari langit. Agar aku dapat menyirami separuh bumi yang tandus. Hingga aku dapat melihat senyum orang-orang tercinta karena Karunia-Mu. Hingga aku dapat membuat sang surya merasa tenang di peraduannya dan ananda mengutas bahagia disetiap rembulan menarik sinarnya.
Selepas Ashar. Jamaah shalat Ashar meninggalkan masjid satu persatu. Sebagian lampu masjid sudah dinyalakan. Kesunyian mulai merayap. Angin bertasbih pada dedaunan pohon ketapang dan diantara gemercik air. Matahari tersaput awan. Sayup-sayup terdengar tilawah Al-Quran dari kamar ta’mir masjid. Suaranya mendayu-dayu. Terasa syahdu dalam kalbu.
Pada shaf putra . Aku mengenakan gamis merah marun yang sedikit kusam. Jemariku tak henti memilin biji tasbih. Sementara bibirku berlumur tasbih dan tahmid, memuja Rabb Allah Azza Wajalla.
Sementara itu, seorang remaja putra berada disampingku. Dalam sujud panjangnya, terdengar gemuruh doa dari kedalaman hati. Hingga sajadahnya bersimbah airmata. Seusai salam, ia menepis airmatanya dengan telunjuk dan ibu jarinya.
“Mengapa kau menagis, Adikku ?”
Remaja laki-laki itu hanya menunduk dan menggeleng seraya mengusap air mata yang juga masih terdengar isakkan tangisnya.
Aku memeluk pundak anandaku Taufik, adik tercintaku. Tak henti aku menepuk-nepuk pundaknya tanda bahwa aku inigin menunjukan bahwa aku mampu menjadi pendengar yang baik untuk adik tercintaku. “Mas apakah Taufik harus mengikhlaskan Anan ?” tanyanya kepadaku diiringi dengan sesenggukan yang menandakan luka begitu dalam.
“Ya, adikku. Insya Allah, akan lebih baik jika kamu mengikhlaskan cinta dibukan masa. Jika kamu telah memiliki bekal yang cukup untuk menjadi imam yang baik bagi makmummu, dan ayah yang bijak bagi anak-anakmu kelak, maka segerakanlah akhwat yang shalehah untuk menjadi bidadari dalam perjalanmu. Karena kalian belum menemukan masa dimana benar-benar memahami komitmen. Lebih baik kamu fokus dalam belajar dan memantaskan diri dulu hingga kamu dan pendampingmu baik Anandiani atau siapapun itu mampu menjadi umat di jalan yang lurus milik Allah”
“Selama ini Taufik menganggap Anan seperti adik Taufik sendiri. Taufik tak berani mencintainya Mas. Tapi semua itu membuat Taufik merasa menyayanginya dengan ikhlas.”
“ Jika kamu dan Anan sudah mepersiapkan diri untuk membangun cinta dengan Ridho-Nya, maka segeralah untuk menghalalkannya.”
Astaghfirullahal’adzim! Mas Imam, Taufik masih mengeyam pendidikian dibangku SMA. Mana mungkin Taufik menikah, lantas apa yang akan membuat kami kokoh membangun cinta tanpa sebuah kematangan yang sejak jauh hari harus dipersiapkan ? Taufik tahu pacaran adalah hal yang nista. Mendekati zina. Haram hukumnya. Dan tak mungkin Taufik melakukannya.” Taufik meninggikan suaranya. Sorot matanya menyala-nyala. Namun, pesona manis wajahnya tetap terjaga.
“Mungkin sudah saatnya Mas bercerita kepadamu. Bagaimana Mas menjalani kegelisahan dimasa remaja. Penuh airmata kegundahan. Hanya ketir yang Mas rasa. Terombang-ambing dengan masa depan dan harapan.”
“Benarkah, Mas ? Mengapa Mas selama ini tak pernah menceritakannya?”
***
Senja berganti. Adzan Maghrib telah berkumandang. Jamaah melakukan shalat maghrib dan isya ditempat dimana aku dan adik tercinta sedari tadi berbincang-bincang. Jamaah shalat isya’ meniggalkan masjid satu persatu. Sebagian lampu masjid telah padam. Pintu-pintu telah terkunci.Bulan bersaput awan. Malam semakin pekat. Tanpa rembulan. Tak berbintang. Hanya angin malam yang semakin liat bertasbih, beradu dengan lantunan ayat-ayat suci dari kamar ta’mir masjid, hingga menembus langit.
Aku menutup pintu masjid, agar angin tak begitu besar menerpa perbincanganku dengan Taufik. Dalam rangkulanku, dalam balutan gamis merah marun penuh kasih, ananda adik tercintaku mendengarkanku bercerita untuknya.
***
Ketika matahari tersaput awan, dan ketika rembulan bersiul diatas bunga-bunga ditaman, aku berpijak seorang diri dibawah rindangnya pepohonan, merenungi kehidupanku sendiri sambil menajamkan pandangan ke gemerlap bintang. Dikejauhan terdengar gemercik air sungai yang mengalir cepat, sambil menyenandungkan perjalannya menjuju lembah.
Berat rasanya menginjakkan kaki dipondokini. Tempat ummi meneteskan airmata tanpa seorang pun yang menyeka. Baju koko yang kucel yang kukenakan sejak alam menggeliat membuka selubung gelapnya, hingga matahari senja melukis pelangi  diufuk barat. Saat aku beranjak dari masa kecil. Hadiah terindah. Hadiah terindah dari abi saat menerima gaji setelah sekian lama tak pernah tersisa. Saat aku berusaha memberi mahkota untuk ummi dan abi kelak. Saat aku masih mampu menghempaskan tubuh di atas matras.
Caraka. Hanya seorang anak caraka yang dititipkan untuk mengenyam pendidikan dikalangan menegah selepas kepergian abiku. Tebuireng adalah tanah Aisyah dibesarkan dan dikhitbah tepat lima hari yang lalu. Karena ayahnya Aisyah mewasiatkan putri tercintanya untuk menjadi makmum bagi anak sohib ayahnya sejak kecil.
Entah mengapa aku selalu berangan menjelma bersama buih gerimis diluar jendela kamarnya. Agar aku dapat memandang lekat wajahnya sebagaimana ia melihatku. Hingga aku dapat memandang Aisyah tersenyum dibalik kerudung hijaunya. Mencium aroma lezat disetiap senja, disaat spektrum terpendar dalam setiap sela jendela rumahku. Rumah kita. Rumah aku dan Aisyah. Harapan itu selalu membayangiku. Walau hingga mawar tak lagi berkelopak. Ya rabb, aku sungguh jatuh cinta.
Ketika rembulan enggan berhenti memainkan jemarinya diatas kota Jombang yang masih dihiasi gemerlap lampu malam. Aku terbangun dua jam lebih pagi dibandingkan santri lainnya. Hanya sekedar menyapu halaman, membakar sampah, menyapu dan mengepel lantai serta membersihkan kaca jendela pondok pesantren Tebuireng dan ditemani sahabat abiku. Hal ini aku lakukan agar pondok ini tak berdebu dan aku melakukan segala aktivitas lain yang selalu dikerjakan abi. Ikhlas. Sungguh Ikhlas. Hanya saja ketir yang terus kurasa melihat Aisyah dapat tersenyum bukan untukku dan karenaku.
Aku tak peduli dengan diriku sendiri. Tak ada jejak sedikit pun ajaran yang selalu abi tanamkan. Aku tak bisa melihatnya, ini semua karena Aisyah. Aku selalu mengingat kejadian itu, kesalahan yang aku nikmati. “Aisyah aku sungguh mencintaimu” gumamku. Dan dengan anggunnya Aisyah menjawab “aku bersedia menjadi makmum untukmu.” Sungguh aku tenggelam dalam bahagiaku. Aku pun terbangun saat matahari membuka selubung gelapnya. Disampingku terdapat wanita impianku. Aisyah. Aku menggenggam tanggannya erat erat. Ini kali pertamaku melabuhkan tangan di tubuh seorang akhwat. Sungguh begitu indah dan tak ingin aku beranjak sedikit pun dari tempat ini. Dikoridor perpustakaan. Kami mengerjakan tugas fiqih bersama hingga akhirnya tertidur. Penuh perjuangan untuk dapat berdua dengannya karena tentunya kami harus sembunyi-sembunyi dari para santri dan pengajar.
Aku begitu menikmati kesalahan yang aku perbuat. Berusaha keluar dari pondok dimalam hari, merokok dan berbagai kenakalan telah aku coba. Aku begitu jauh dari-Nya. Terjerambab begitu dalam pada lubang kenistaan. Aku jauh dari syari’ah-Nya. Entah apa yang ada dibenakku hingga menjadikanku seperti ini.
Aku mendapat desakkan dari pengajar dipondok ini untuk menikah dengan Aisyah. Sikap santri dan para pengajar begitu memukulku dan membuatku tidak sanggup berapa disana. Kejadian pada sore itu membuat para santri dan pengajar nampak begitu mebenciku. Aku tidak siap untuk menikahi wanita yang aku cintai tanpa bekal apapun. Lalu apa yang harus aku katakan kepada ummi nanti. Aku benar benar tertekan saat itu.
Ditengah kesunyian malam, sang kebijaksanaan mendatangiku dan dia berdiri tepat disampingku. Ia memandangku laksana seorang ibu yang sedang memperhatikan anak tercintanya, lalu menyeka airmata yang sedari tadi membasahi wajahku tanpa seorangpun yang menyeka seraya berkata.
“Aku mendengar jeritan tangis jiwamu dan aku datang untuk menenangkanmu. Maka bukalah pintu hatimu, niscaya aku akan mengisinya dengan cahaya melebur kegelapan.” Seuntai kata yang entah terucap dari siapa membuatku bertekad untuk segera pergi dari tempat Abiku mengabdi.

***
Sungguh ini bukan mimpiku. Bukan keinginanku, ini jauh dari harapanku. Dengan baju yang lusuh, rambut gimbal seraya membawa ransel aku terus menelusuri jalan. Entah keputusan apa yang aku pilih sehingga mengantarkannku menjadi seperti ini. Aisyah. Aku ingin memilikimu.
Aku tak mengenal jati diriku. Menanti hal yang belum tentu kudapatkan. Berharap besar dengan Aisyah. “Aisyaaaaaaaaaaaaaaaaaaah” aku meneriakkan namanya berulang ulang setiap aku melihat akhwat anggun dan mengenakan khimar sepinggang. Semua orang mungkin telah menganggapku gila. Wajar saja, dengan pakaianku yang sangat lusuh dan tingkahku yang tak lagi wajar.
Kujalani kehidupan baruku. Mungkin banyak orang menganggapku sebagai gelandangan. Namun benakku terus menggeliat untuk menolak itu. Aku hanya dalam penantian panjang. Kujalani kehidupanku sebagai pencari cinta selama tujuh bulan. Aku mengetahui itu dari guru SMAN 1 Jombang. Seorang malaikat yang mengantarkankku kembali kejalan-Nya setelah terjerambab jauh dalam kenistaan.
Ustadz Syihab membujukku untuk ikut kepadanya dengan cara menjanjikan mempertemukannku dengan Aisyah. Wanita idamanku. Wanita yang mengantarkankku menjadi seperti ini. Dia mengetahui aku sedang dalam pencarian jati diri. Kebetulan ustadz Syihab memahami psikologi seorang remaja. Dia begitu kritis menghadapi masalah akidah dan akhlak yang kian memburuk, khususnya dikalangan remaja. Aku belajar banya darinya, sehingga kini aku mulai kembali mendapatkan cahaya-Nya.
***
Kutundukkan pandanganku sambil mengeratkan genggamanku pada ransel yang kukenakan. Berjalan cepat, sambil menyenandungkan perjalanan menuju tempat aku menuntut ilmu. Aku mulai terbiasa dengan cara memandang mereka yang selau mengernyitkan kedua halisnya tiap kali melihatku. Bukan enggan menepisnya. Aku hanya ingin melewati perjalanan matahari sejak dari ufuk timur hingga keufuk barat dengan ikhlas. Aku membuka lembaran baru setelah memutuskan untuk meninggalkan pondok dan melewati perjalan panjang dalam hidupku. Aku dititipkan oleh ustadz Syihab untuk bersekolah di SMAN 1 Jombang. Aku menemukan sosok ayah pada dirinya. Sungguh aku sangat menghormatinya.
Sejak awal mengenyam pendidikan di SMA Negeri 1 Jombang, aku telah tinggal di Masjid Nurul Iman. Hampir menginjak dua tahun aku telah menjadi ta’mir masjid sekolah ini. Bagiku sebuah keuntungan bisa mengabdikan diri di rumah Allah. Merawat, menjaga dan meramaikan masjid. Tak saja berburu amal baik dengan menjadi jamaah setiap lima waktu, adzan, iqamah hingga menyapu dan mengepel lantai serta membersihkan kaca jendela agar tak berdebu dan segala aktivitas lain. Dan yang terpenting, shalat jama’ahku selau terjaga.
Bukan ummi yang mengantarkannku. Ataupun abi yang menggiringku untuk menjadi ta’mir masjid. Mungkin aku yang tak mampu mengendalikan rasa ini. Rasa yang seharusnya tidak aku rasakan. Virus merah jambu yang membuatku enggan bertahan menjadi santri di Tebuireng. Aisyah yang membuatku dipagut rindu yang kian menderu.
Aisyah bukan satu-satunya yang menggiringku untuk menjadi ta’mir Masjid Nurul Iman. Membuatku sebatangkara. Terbiasa dengan perkara. Entahlah aku tak mau bersuudzon. Tapi paradigma para pengajar dan para santri membuat aku tak sanggup untuk berdiri sempurna di pondok Tebuireng.
***
Bunga melihat daun-daunnya tidur mendekap rindunya. Malam semakin larut. Kini tinggal aku sendiri di dalam masjid. Beberapa lampu di serambi masjid telah padam. Hanya lampu didalam masjid ini yang kubiarkan menyala. Bersembunyi dari balik sarungku dari terpaan angin yang menerobos celah pintu masjid. Aku meneruskan membaca Al-Quran kembali. Aku membuka selubung gelap kehidupankku. Mendekatkan diri kepada-Nya.
Tak akan kutukar duka lara hatiku dengan suka cita manusia. Aku tak rela bila airmata yang mengucur dari setiap kesedihan diri menjadi tawa. Biarlah hidupku berkubang airmata dan senyuman. Air mata yang menyucikan hidupku dan membuatku faham akan rahasia-rahasia hidup dan misterinya.
Tak pernah terlintas dibenakku hingga saat ini aku dapat berdiri kokoh. Kuharap langkahku selau diiringi dengan Ridho-Nya. Bukan tak tahu. Ridho Allah itu ada pada Ridho orang tua. Tapi apa daya. Aku hanya bisa membiarkan jalan hidupku bersenandung menyusuri lembah dan berharap berakhir di hamparan laut biru nan indah.
Menginjak dua puluh dua juz. Bukan menjadi profesor yang ummi harapkan. Hafidz adalah dambaan Ummi. Aku tahu benar itu. Ingin rasanya menghempaskan jiwa dan raga ini dipelukan ummi setelah lama tak kulihat senyum santunnya sejak 3 tahun yang lalu. Namun saat ini aku belum mampu menyusuri Jombang menuju kota Kembang. Aku  tahu Ummi akan kecewa dengan keputusanku berhenti menjadi santri. Tapi aku  yakin kekecewaan ummi tak akan sebesar kekecewaan bila aku berhenti berusaha menjadi hafidz.
***
Aku melihat tabib sedang bermain dengan jiwa orang-orang sederhana dan penuh kejujuran. Aku melihat seseorang acuh tak acuk duduk bersama si bijak, sambil mengagungkan masa lalu ketika tahta berjaya, menghiasi masa kini mereka dengan jubah-jubah yang berlimpah dan menyipakan sebuah ranjang mewah untuk masa depan.
Warna warni kehidupan telah kujalani. Kehidupan baruku jauh berbeda dengan kehidupanku selama satu tahun lamanya di Tebuireng. Pelayan kedai yang begitu melelahkan. Pembimbing olympiade kebumian bagi rekan itu sungguh menyenangkan. Mengajar ngaji di taman kanak-kanak penuh pelajaran. Berlatih keras menghadapi olympiade kebumian hingga menjadi perwakilan Provinsi Jawa Timur itu kubanggakan. Semua kulewati dengan ikhlas. Untuk Ummi, Abi dan ananda adik tercintaku, Taufik.
Bingung dengan ketiga kewajibanku selalu mewarnai hariku. Jika terlambat masuk kelas jelas merugikan. Jika aku fokuskan kewajiban menuntut ilmu, jelas tak mungkin kubiarkan rumah Allah berlapis debu dan usang. Jika aku hanya merawat masjid, bagaimana masa depanku, sosialku yang mulai memikirkan pendamping hidup. Penuh suka duka memang. Hanya mampu bersimpuh dikeheningan malam seraya berdoa kepada-Nya.
Pundi-pundi mulai terkumpul. Tak akan kubiarkan rindu tak bertepi. Aku hubungi ummi yang berada di Kota Kembang. Aku harap Ummi rasakan yang sama. “Fokuskan dirimu menjadi seorang hafidz, hanya itu yang membuat Ummi bahagia”. Seuntai kata yang menyesakkan. Membuat airmata enggan berhenti membasahi wajahku. Ummi bersikeras melarangku untuk pulang.
***
Tiga tahun dipagut rindu disetiap senja untuk berjumpa dengan ummi dan sanak keluarga. Aku berharap hari ini ummi berada didepanku  menyaksikanku  melantunkan ayat suci. Berhasil menjadi hafidz genap diusia delapan belas tahun. Hanya ada Taufik, paman dan bibi. Sungguh luka begitu dalam, luka sayat yang belum sempat terobati kian membesar. Luka ini terlalu pagi untuk beranjak. Jangankan untuk beranjak, kini aku pikir aku tak lagi mampu berpijak.
***
Tibalah aku dirumah tempat aku mengukir senyum selama lima belas tahu lamanya dengan begitu resah. Memanggil-manggil ummi. Bibi hanya menyodorkan sepucuk surat dengan meneteskan air mata perih sambil tersedu-sedu tanda luka yang begitu dalam, surat dari Ummi sebelum kepergiannya. Sesak dada, entah apa yang harus ku ucapkan.  Mengapa ummi tak memberi kesempatan untukku membahagiakannya. Mengapa ummi membiarkan rindu ini tak bertepi. Membiarkanku mengemban kekecewaan begitu besar. Menangis. Hanya mampu menangis. Aku tak tahu harus kepada siapa aku luapkan kekecewaan ini. Aku  teriakkan isak tangis dalam benakku. Maafkan aku rindu,aku tak membiarkanmu bertepi.
 Namun segera aku menepisnya.Hanya dapat menyebut Abi dan Ummi disetiap doaku. Akan kujadikan hidupku hanya untuk memberi mahkota pada ummi dan abi. Kini aku hanya mampu berusaha membimbing Taufik sehingga dapat memberi mahkota yang lebih indah untuk ummi dan abi di jannah-Nya.
***
Aku dan Taufik masih terbalur gamis yang dibasahi airmata, berjalan meninggalkan masjid, untuk kembali kerumahku. Dalam gamis merah marun penuh kasih, yang selau merindu untuk bertemu Sang Khaliq, dalam sujud sujud panjangku dan adik tercintaku yang sejak kepergian Abiku dirawat oleh paman dan bibi. Ummi dan abi akan selalu terbalut dalam hati, dalam menapaki hari-hari penuh cinta.
Bulan bundar sempurna. Cahanyanya yang benderang mampu menerangi separuh langit.
“Taufik akan segera mengkokohkan iman ini. Menapaki setiap jalan yang Allah Ridhoi. Mohon doa restu, Mas.”
Mereka saling berpelukan dibawah purnama. Erat. Dalam tangis haru yang menderu. Mereka masih berpelukan tatkala seorang wanita menghampiri mereka. Wanita yang mengenakan gamis hijau. Rapi. Berkacamata. Berhidung mancung dan berhalis tebal. Wanita yang memiliki mata indah yang selalu membuatku  jatuh cinta.
“Tahukah engkau, Adikku. Wanita yang mencuri hati Mas mu ini dan membawanya ke jalan lurus milik Allah adalah Mbak-mu, Aisyah.”






Tidak ada komentar:

Posting Komentar